Skip to main content
Academically Reviewed

Berdasarkan penelitian Menelaos Apostolou, associate professor of psychology di University of Nicosia.

“Kenapa Kamu Masih Single?” Test

Apa yang sebenarnya membuatmu tetap single?

Menjadi single dapat memiliki banyak penyebab, mulai dari standar yang tinggi dan peluang kencan yang terbatas hingga ketakutan akan keintiman, kesulitan menandakan ketertarikan, atau sekadar memiliki prioritas lain.

Dengan mengacu pada serangkaian studi peer-reviewed yang dipimpin oleh psikolog Menelaos Apostolou di University of Nicosia, yang meneliti alasan-alasan singlehood dan faktor-faktor yang terkait dengan kesulitan menemukan pasangan, “Kenapa Kamu Masih Single?” Test mengukur tujuh dimensi berbeda yang menjelaskan mengapa orang-orang tidak bersama pasangan.

Kenapa kamu masih single? Untuk mengikuti tes ini, masukkan inputmu di bawah.

Pertanyaan ke-1 dari 35

Saya menghabiskan waktu yang relatif sedikit untuk secara aktif mencari seseorang untuk berkencan.

Tidak setuju
Setuju

Kembali Selanjutnya

Menjadi single sering diperlakukan seolah-olah memiliki satu penjelasan yang jelas. Pada kenyataannya, orang-orang tetap single karena banyak alasan yang berbeda, dan alasan-alasan tersebut dapat melibatkan keadaan, preferensi, keterampilan interpersonal, kebiasaan emosional, atau sekadar cara seseorang memilih untuk mengatur hidupnya. Seseorang yang jarang bertemu calon pasangan menghadapi situasi yang sangat berbeda dari seseorang yang sering kencan tetapi menolak sebagian besar pilihan yang tersedia. Demikian pula, seseorang yang sangat menghargai kemandirian mungkin memiliki sedikit kesamaan dengan seseorang yang menginginkan hubungan tetapi ragu-ragu karena pernah terluka.

Kenapa Kamu Masih Single? Test dikembangkan untuk membedakan antara jalur-jalur berbeda ini. Tes ini mengacu pada serangkaian studi peer-reviewed yang dipimpin oleh psikolog Menelaos Apostolou dari University of Nicosia, yang penelitiannya telah meneliti mengapa orang melaporkan menjadi single dan karakteristik psikologis serta perilaku mana yang terkait dengan tetap single. Di seluruh program penelitian ini, faktor-faktor seperti pemilihan yang ketat, kemampuan menggoda, usaha kawin, ketakutan akan komitmen, ketakutan akan terluka, keinginan yang dirasakan, dan prioritas hidup yang bersaing telah berulang kali muncul sebagai hal yang relevan dengan singlehood.

Daripada berasumsi bahwa satu faktor menjelaskan status hubungan semua orang, tes ini mengorganisasikan tema-tema ini menjadi tujuh dimensi luas: Selektivitas, Paparan, Perkawinan, Keinginan, Penghindaran, Kewaspadaan, dan Prioritas. Masing-masing mewakili rintangan, preferensi, atau keadaan berbeda yang dapat memengaruhi apakah hubungan romantis berkembang.

Beberapa dimensi ini menyangkut peluang. Seseorang mungkin hanya bertemu relatif sedikit calon pasangan atau mencurahkan sedikit waktu untuk kencan. Yang lain menyangkut interaksi: Seseorang dapat memiliki banyak kontak sosial tetapi merasa sulit untuk menggoda, menandakan ketertarikan, atau mengarahkan interaksi ke arah romansa. Masih ada dimensi lain yang mencerminkan apa yang terjadi ketika hubungan menjadi mungkin. Standar yang tinggi dapat mempersempit kumpulan pasangan yang dapat diterima, sementara ketidaknyamanan dengan komitmen atau ketakutan akan cedera emosional dapat membuat kedekatan lebih sulit untuk dikejar.

Yang penting, tidak setiap alasan untuk menjadi single harus ditafsirkan sebagai kekurangan. Tetap single dapat mencerminkan prioritas pribadi yang kuat, kemandirian, atau keengganan untuk memasuki hubungan yang tidak memenuhi standar seseorang. Sebaliknya, beberapa faktor mungkin mengidentifikasi area di mana niat dan perilaku seseorang saling bertentangan. Seseorang mungkin sangat menginginkan pasangan sementara jarang bertemu orang baru, atau menginginkan keintiman tetapi menjadi waspada setiap kali risiko emosional muncul.

Oleh karena itu, tes ini dirancang sebagai profil daripada vonis. Kebanyakan orang kemungkinan besar menunjukkan campuran beberapa pengaruh, dan pola relatif di seluruh dimensi umumnya lebih informatif daripada skor tunggal mana pun.

Tes ini tidak boleh ditafsirkan sebagai penilaian klinis atau sebagai bukti bahwa karakteristik tertentu telah menyebabkan seseorang menjadi single. Hubungan dipengaruhi oleh kebetulan, budaya, tahap kehidupan, lokasi, peluang, dan perilaku orang lain, yang tidak satu pun dapat sepenuhnya ditangkap oleh kuesioner. Sebaliknya, hasilnya dimaksudkan untuk menyediakan cara terstruktur untuk memikirkan kekuatan-kekuatan berbeda yang dapat membentuk keadaan romantis seseorang dan area-area yang mungkin, atau tidak, berada dalam kendali mereka.

Referensi

  • Apostolou, M. (2017). Why people stay single: An evolutionary perspective. Personality and Individual Differences, 111, 263–271. https://doi.org/10.1016/j.paid.2017.02.034
  • Apostolou, M., Papadopoulou, I., Christofi, M., & Vrontis, D. (2019). Mating performance: Assessing flirting skills, mate signal-detection ability, and shyness effects. Evolutionary Psychology, 17(3). https://doi.org/10.1177/1474704919872416
  • Apostolou, M., O, J., & Esposito, G. (2020). Singles’ reasons for being single: Empirical evidence from an evolutionary perspective. Frontiers in Psychology, 11, Article 746. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2020.00746
  • Apostolou, M. (2021). Involuntary singlehood and its causes: The effects of flirting capacity, mating effort, choosiness and capacity to perceive signals of interest. Personality and Individual Differences, 176, Article 110782. https://doi.org/10.1016/j.paid.2021.110782
  • Apostolou, M., Birkás, B., da Silva, C. S. A., Esposito, G., Hsu, R. M. C. S., Jonason, P. K., Karamanidis, K., O, J., Ohtsubo, Y., Putz, á., Sznycer, D., Thomas, A. G., Valentova, J. V., Varella, M. A. C., Kleisner, K., Flegr, J., & Wang, Y. (2021). Reasons of singles for being single: Evidence from Brazil, China, Czech Republic, Greece, Hungary, India, Japan and the UK. Cross-Cultural Research, 55(4), 319–350. https://doi.org/10.1177/10693971211021816
  • Apostolou, M., Sullman, M., Birkás, B., Błachnio, A., Bushina, E., Calvo, F., Costello, W., Dujlovic, T., Hill, T., Lajunen, T. J., Lisun, Y., Manrique-Millones, D., Manrique-Pino, O., Meskó, N., Nechtelberger, M., Ohtsubo, Y., Ollhoff, C. K., Przepiórka, A., Putz, á., ... Font-Mayolas, S. (2023). Mating performance and singlehood across 14 nations. Evolutionary Psychology, 21(1). https://doi.org/10.1177/14747049221150169
  • Apostolou, M., & Michaelidou, E. (2024). Why people face difficulties in attracting mates: An investigation of 17 probable predictors of involuntary singlehood. Personality and Individual Differences, 216, Article 112422. https://doi.org/10.1016/j.paid.2023.112422

“Kenapa Kamu Masih Single?” Test

Mengapa Menjalani Tes Ini?

1. Gratis. Kenapa Kamu Masih Single? Test ini gratis untuk diikuti dan menawarkan penilaian langsung yang mendetail tanpa memerlukan registrasi.

2. Berbasis penelitian. Tes ini mengacu pada serangkaian studi peer-reviewed yang dipimpin oleh psikolog Menelaos Apostolou dari University of Nicosia, yang meneliti alasan-alasan singlehood dan faktor-faktor yang terkait dengan kesulitan menemukan pasangan.

3. Hasil yang mudah dibaca. Profilmu dengan jelas menggambarkan skor-skormu di tujuh aspek berbeda, sehingga mudah untuk melihat apakah faktor-faktor seperti selektivitas, paparan terbatas, kesulitan perkawinan, penghindaran, kewaspadaan, keinginan, atau prioritas yang bersaing mungkin berkontribusi pada singlehood-mu.