Skip to main content
Academically Reviewed

Berdasarkan penelitian D. C. Jack (1992).

Self-Silencing Test (STSS)

Apakah Anda membungkam kebutuhan dan perasaan Anda dalam hubungan dekat?

Hubungan sering membutuhkan kompromi, tetapi secara konsisten menyembunyikan perasaan Anda atau memprioritaskan orang lain dengan mengorbankan diri sendiri dapat menyebabkan self-silencing.

Berdasarkan penelitian oleh D. C. Jack (1991) dan Silencing the Self Scale (STSS), penilaian ini mengukur self-silencing di seluruh dimensi psikologis utama, termasuk pengorbanan diri, penilaian eksternal, dan perpecahan batin.

Seberapa banyak Anda menekan suara sejati Anda untuk menjaga keharmonisan? Untuk mengikuti tes, masukkan input Anda di bawah ini.

Pertanyaan ke-1 dari 31

Agar merasa baik tentang diri saya sendiri, saya perlu merasa mandiri dan mandiri.

Tidak setuju
Setuju

Kembali Selanjutnya

D. C. Jack memperkenalkan Silencing the Self Scale (STSS) pada tahun 1991 untuk meneliti bagaimana tekanan budaya dan relasional membuat individu menekan pikiran, perasaan, dan kebutuhan mereka sendiri. Awalnya dikembangkan untuk mengeksplorasi tekanan psikologis dan depresi pada perempuan dalam hubungan intim, penelitian empiris selanjutnya telah menunjukkan bahwa self-silencing terjadi di seluruh garis gender, kelompok usia yang beragam, dan berbagai konteks sosial. Jack berpendapat bahwa skema budaya seputar cinta dan keintiman sering mendorong orang untuk percaya bahwa mempertahankan koneksi membutuhkan menempatkan diri mereka sendiri di belakang, menekan kemarahan, dan menyembunyikan ketidaksepakatan untuk menghindari konflik, penolakan, atau pengabaian emosional.

Tes ini memprofilkan empat aspek berbeda dari self-silencing seperti yang dialami dalam kehidupan sehari-hari. Externalized Self-Perception mencerminkan menilai harga diri Anda terutama melalui mata orang lain dan berusaha memenuhi standar eksternal kesempurnaan. Care as Self-Sacrifice menggambarkan keyakinan bahwa kepedulian yang tulus membutuhkan menempatkan kebutuhan orang lain sepenuhnya di atas kebutuhan Anda sendiri, memandang keinginan pribadi sebagai sesuatu yang secara inheren egois atau merugikan hubungan. Silencing the Self melibatkan secara aktif menahan pendapat dan perasaan autentik Anda dalam hubungan intim untuk menjaga kedamaian dan mencegah ketidaksepakatan. Divided Self menangkap ketegangan internal yang tenang antara menyajikan eksterior yang patuh dan menyenangkan sementara secara batin merasa marah, memberontak, atau terputus dari identitas nyata Anda.

Penelitian yang menggunakan STSS mengungkapkan bahwa self-silencing membawa konsekuensi substansial untuk kesehatan psikologis individu dan kualitas relasional. Studi secara konsisten menunjukkan bahwa skor tinggi pada self-silencing berkorelasi dengan tekanan psikologis yang meningkat, harga diri yang lebih rendah, kelelahan emosional, dan tingkat gejala depresi yang lebih tinggi. Ketika individu secara berulang menyembunyikan perasaan autentik mereka untuk mencegah gesekan interpersonal, konflik relasional tidak hilang; sebaliknya, itu berbalik ke dalam. Seiring waktu, menyembunyikan diri sejati seseorang mengikis keintiman autentik, karena hubungan yang dibangun di atas emosi yang tidak diekspresikan dan konflik yang ditekan sering menumbuhkan kebencian yang tenang dan jarak emosional daripada kedekatan yang tulus.

Penanda perbandingan populasi yang ditampilkan di samping grafik Anda menyediakan titik referensi yang diperkirakan yang diskalakan ulang dari sampel penelitian yang diterbitkan yang menggunakan STSS. Dalam sampel populasi dewasa umum, skor keseluruhan yang khas cenderung berada di dekat 42% pada kontinum self-silencing. Harap dicatat bahwa penanda ini adalah estimasi populasi kasar yang diturunkan dari studi akademis yang diterbitkan daripada norma persentil yang divalidasi atau peringkat standar untuk penilaian web spesifik ini, jadi Anda harus memperlakukannya sebagai garis dasar longgar untuk refleksi kontekstual daripada peringkat definitif tentang posisi Anda.

Self-silencing bukanlah sifat kepribadian yang permanen atau diagnosis klinis, tetapi sebaliknya serangkaian kebiasaan relasional yang dipelajari dan keyakinan kognitif yang dapat berubah seiring waktu. Mempelajari bagaimana Anda menavigasi batas-batas pribadi, mengartikulasikan kebutuhan, dan menangani konflik interpersonal dapat membantu Anda mengidentifikasi area di mana komunikasi yang jujur mungkin menggantikan kepatuhan yang tenang. Mengenali pola perilaku ini sering merupakan langkah pertama yang penting menuju menumbuhkan hubungan autentik di mana kedua individu merasa didengar, dihormati, dan didukung tanpa harus menghapus identitas mereka sendiri.

Tes ini disediakan secara ketat hanya untuk tujuan edukasi dan refleksi diri. Ini bukan instrumen diagnostik dan tidak dapat mendiagnosis kondisi kesehatan mental atau gangguan hubungan apa pun. Penilaian ini didasarkan pada Silencing the Self Scale (STSS) tetapi menggunakan item asli sendiri dan tidak berafiliasi dengan D. C. Jack atau institusi akademiknya. Jika Anda menemukan bahwa self-silencing menyebabkan tekanan emosional yang signifikan atau ketegangan berkelanjutan dalam hubungan dekat Anda, pertimbangkan untuk berbicara dengan profesional kesehatan mental yang berkualifikasi untuk dukungan dan bimbingan yang dipersonalisasi.

Referensi

  • Jack, D. C., & Dill, D. (1992). The Silencing the Self Scale: Schemas of Intimacy Associated With Depression in Women. Psychology of Women Quarterly, 16(1), 97-106.

Self-Silencing Test (STSS)

Mengapa Menjalani Tes Ini?

1. Gratis. Self-Silencing Test ini disediakan tanpa biaya dengan penilaian segera.

2. Cara kerjanya. Anda menilai pernyataan tentang perasaan dan perilaku Anda dalam hubungan, dan jawaban Anda dinilai pada skala yang diterbitkan instrumen.

3. Ketahui batasannya. Tes ini adalah snapshot laporan diri yang dirancang untuk refleksi pribadi, bukan penilaian klinis atau diagnosis psikologis.